Persepsi
dan Individu Pengambilan Keputusan
Silva
Diana Putri (21031143)
Program
Studi Administrasi Bisnis Institut Manajemen Wiyata Indonesia
Pengertian
Persepsi
Persepsi adalah proses di mana kita
mengatur dan menafsirkan kesan sensorik untuk memberi makna pada lingkungan
kita. Apa yang kita rasakan dapat berbeda secara substansial dari realitas
objektif. Misalnya, semua karyawan di sebuah perusahaan mungkin memandangnya
sebagai tempat yang bagus untuk bekerja—kondisi kerja yang menguntungkan,
penugasan pekerjaan yang menarik, gaji yang baik, tunjangan yang sangat baik,
pengertian dan manajemen yang bertanggung jawab. Mengapa persepsi penting dalam
studi Organizational Behavior (OB)? Hal ini penting karena perilaku orang
didasarkan pada persepsi mereka tentang apa itu realitas, bukan pada realitas
itu sendiri. Untuk memahami kesamaan kita semua dalam interpretasi kita tentang
realitas, kita perlu mulai dengan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi
kita.
Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Persepsi
Banyak
faktor yang membentuk dan terkadang mendistorsi persepsi. Faktor-faktor ini
dapat berada dalam persepsi, objek atau target yang dirasakan, atau situasi di
mana persepsi dibuat.
1.
Faktor-faktor dalam pencerap
· • Sikap
· • Motif
· • Minat
· • Pengalaman
· • Harapan
2.
Faktor dalam situasi
· • Waktu
· • Latar belakang
· • Pengaturan kerja
3.
Faktor dalam target
· • Kebaruan
· • Gerakan
· • Suara
· • Ukuran
· • Latar belakang
· • Kedekatan
· • Kesamaan
Persepsi
Orang: Membuat Penilaian tentang Orang Lain
Teori
atribusi
Persepsi dan penilaian kita tentang
tindakan seseorang dipengaruhi oleh asumsi yang kita buat tentang keadaan
pikiran orang itu. Teori atribusi mencoba menjelaskan cara kita menilai orang
secara berbeda bergantung pada makna yang kita kaitkan dengan suatu perilaku.
Misalnya, pertimbangkan apa yang Anda pikirkan ketika orang tersenyum kepada
Anda. Apakah menurut Anda mereka kooperatif, eksploitatif, atau kompetitif?
Kami memberikan makna pada senyuman dan ekspresi lainnya dalam banyak cara.
Teori atribusi juga mencoba menjelaskan apa yang kita lakukan sebagai akibat
dari atribusi kita. Sebagai contoh, penelitian terbaru menunjukkan bahwa
supervisor lebih mungkin untuk mengeksploitasi atau memperlakukan bawahan
dengan buruk (misalnya, membuat mereka bekerja lembur, memberi mereka tugas
yang membosankan) jika mereka menilai mereka sebagai "bersemangat"
tentang pekerjaan mereka. Teori atribusi menunjukkan bahwa ketika kita
mengamati perilaku individu, kita mencoba untuk menentukan apakah itu
disebabkan secara internal atau eksternal. Penentuan itu sangat bergantung pada
tiga faktor: (1) kekhasan, (2) konsensus, dan (3) konsistensi.
Jalan
Pintas Umum dalam Menilai Orang Lain
Persepsi
Selektif
Setiap karakteristik yang membuat
seseorang, objek, atau peristiwa menonjol akan meningkatkan kemungkinan kita
akan melihatnya. Mengapa? Karena tidak mungkin bagi kita untuk mengasimilasi
semua yang kita lihat; kita hanya dapat menerima rangsangan tertentu. Dengan
demikian, Anda lebih cenderung melihat mobil seperti milik Anda, dan bos Anda
mungkin menegur beberapa orang dan bukan orang lain yang melakukan hal yang
sama. Karena kita tidak dapat mengamati segala sesuatu yang terjadi di sekitar
kita, kita menggunakan persepsi selektif. Tetapi kami tidak memilih secara
acak: Kami membuat pilihan berdasarkan minat, latar belakang, pengalaman, dan
sikap kami. Melihat apa yang ingin kita lihat, terkadang kita menarik
kesimpulan yang tidak beralasan dari situasi yang ambigu.
Pengaruh
pada Pengambilan Keputusan
Individu
Perbedaan
Kepribadian
Penelitian menunjukkan bahwa kepribadian mempengaruhi keputusan kita. Mari kita
lihat kesadaran dan harga diri. Orang dengan harga diri yang tinggi (persepsi
umum bahwa cukup baik) sangat termotivasi untuk mempertahankannya, sehingga
mereka menggunakan bias melayani diri sendiri untuk mempertahankannya. Mereka
menyalahkan orang lain atas kegagalan mereka sambil mengambil pujian atas
keberhasilan
Gender
Siapa yang membuat keputusan lebih baik, pria atau wanita? Itu tergantung pada
situasi. Ketika situasinya tidak membuat stres, pengambilan keputusan oleh pria
dan wanita memiliki kualitas yang hampir sama. Dalam situasi stres, tampak
bahwa pria menjadi lebih egosentris dan membuat keputusan yang lebih berisiko,
sementara wanita menjadi lebih berempati dan pengambilan keputusan mereka
meningkat.
Kemampuan
Mental Kita tahu orang-orang dengan tingkat kemampuan mental yang lebih tinggi
dapat memproses informasi lebih cepat, memecahkan masalah lebih akurat, dan
belajar lebih cepat, sehingga Anda mungkin berharap mereka tidak terlalu rentan
terhadap kesalahan keputusan umum. Namun, kemampuan mental tampaknya membantu
orang menghindari hanya beberapa dari mereka.
Perbedaan
Budaya Model rasional tidak mengakui perbedaan budaya, juga sebagian besar
literatur penelitian OB tentang pengambilan keputusan. Budaya berbeda dalam
orientasi waktu, nilai yang mereka tempatkan pada rasionalitas, kepercayaan
mereka pada kemampuan orang untuk memecahkan masalah, dan preferensi mereka
untuk pengambilan keputusan kolektif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar